12 Orang Yang Paling Berkuasa dan Mengontrol Produksi Minyak Dunia

off-pipe

Ada 12 orang yang dianggap sangat berkuasa dan jadinya berpengaruh didalam mengatur, mengontrol berapa minyak yang harus disupply ke seantero jagad:

  1. Ali bin Ibrahim Al-Naimi: Mentri Perminyakan Saudi Arabia: adalah “the most powerfull voice within OPEC”. Beliau mengontrol kran yang bisa menutup dan mengalirkan sebanyak 12.5 Juta Barrel minyak per hari (BPD). Banyak dugaan bahwa jatuhnya harga minyak sekarang ke level $85 lebih kearah permainan untuk menjegal produksi minyak “shale” di US. Saat ini produksi minyak saudi adalah 9.5 juta BPD.
  2. Bijan Zanganeh: Mentri Minyak IRAN, orang kedua berpengaruh di OPEC, dengan produksi sebesar 3.6 Juta BPD.
  3. Adil Abdul Al-Mahdi: Mentri Minyak IRAQ. Tugas pertama beliau adalah berhasilnya membebaskan BAIJI REFINERY dari sekapan ISIS. Saat ini Irak belum lah masuk dalam kelompok sistim kuota. Saat ini porduksi masih 3 jutaan. Sepertihalnya Iran, Irak juga berharap harga minyak dikisaran $100 per barrel agar bisa meningkatkan produksi ke 9 juta.
  4. Rafael Ramirez: mantan Mentri Minyak Venezuela yang masih aktif di OPEC walaupun sekarang jadi MENLU, founding fathernya OPEC, dengan produksi 2.5 juta BPD.
  5. Omar Ali ElShakmak: Acting Mentri Minyak LIBYA Produksi diperkirakan 1 Juta BPD.
  6. Diezani Alison-Madueke: satu satu nya wanita di OPEC mewakili Nigeria, negara penghasil minyak terbesar di Afrika  dengan produksi 2 juta BPD.
  7. Mohammed bin Saleh Al-Sada: Mentri Perminyakan Qatar, ayng lebih dikenal sebagia negara penghasil gas, dengan sedikit saja penghasil minyak nya: 750 ribu barrel.  Qatar berkepentingan dengan tinggi nya harga minyak karena penjualan LNG dikaitkan dengan harga minyak.
  8. Suhail Al-Mazrouei: Rising Star dari Abu Dhabi yang dipromosikan menjadi Mentri Minyak oleh Putra Mahkota Mohammed bin Zayed Al-Nahyan of UAE. UAE dan Saudi seprtinya tidak keberatan harga minyak anjlok, paling tidak untuk sementara. Tapi jangan lama lamajuga karena mereka butuh duit untuk membangun 7 Emirates yang tergantung berat ke Abu Dhabi dengan produksi minyaknya yang 3.2 juta BD.
  9. Youcef Yousif, Mentri Minyak Aljazair. Produksi Minyak nya adalah kira kira 1.8 Juta BPD.
  10. Jose Maria Botelho, the rising star in Africa and soon to overtake Nigeria, yaitu ANGOLA, dengan produksi 1.7 Juta BPD.
  11. Ali Al-Omair, Mentri Minyak KUWAIT, dengan produksi 2.9 juta BPD.
  12. Pedro Merizalde: Mentri Minyak dari Ekuador, yang terkecil diantara OPEC, dengan produksi 580,000 BPD.

Indonesia dengan produksi dikisaran 1 jutab BPD sudah keluar dari OPEC tahun 2008 dengan alasan tidak diberikan power untuk mempengaruhi sebuah keputusan walaupun selalu membaya uang iuran sebesar $2 juta per tahun sebagai membership fee.

Keputusan tersebut sempat dikritik oleh mantan Sekjend Opec, Subroto, karena gak ada juga untungnya keluar dari OPEC.

Namun, pengamat energy dari Singapore, Victor Shum, mengatakan bahwa keluarnya Indonesia dari OPEC juga tidak akan merugikan Indonesia, selain prestise bukan member OPEC lagi.

Posted in General | Leave a comment

Gaji Expat vs Engineer Lokal

Sudah banyak yang bahas dan gak pernah tuntas tentang kenapa gaji engineer lokal di Indonesia selalu lebih rendah dari gaji Expat?

Banyak yang protest terutama kalau melihat kualifikasi expat tidaklah sebagus dan sehebat yang diagung-agungkan.

Bisa gak sih gaji Engineer lokal dengan kualifikasi yang sama, mempunyai gaji dan fasilitas yang sama dengan Expat?

Mau tahu jawaban saya?

Karena saya gak pernah kerja di negara lain selain Inggris dan Saudi Arabia, maka saya cuma bisa membandingkan dengan kedua negara tadi.

Tapi, sebelumnya, mesti diingat bahwa Expat disini adalah orang asing yang datang dan mencari kerja ke suatu negara lain secara sukarela dan mandiri. Dengan kata lain bukan karena dikirim oleh kantor cabang atau pusat yang ada di Indonesia. Kalau yang ini, gak usah di omongin karena gak ada gunanya juga diomongin.

Pertama di Inggris:

Kalau anda melamar kerja di Inggris dan diterima, terlepas masalah VISA KERJA, maka anda akan digaji sesuai dengan peraturan Tenaga Kerja Inggris termasuk bayar pajak dan asuransi kesehatan (NHS). Hitungan gampang nya adalah seperti contoh di bawah:

  • Salary : £60,000.00 per year
  • Tax Code: 1000L
  • Tax: Employee National Insurance Contribution: £ 4,431.00 per tahun
  • PAYE (pay as You earn): £ 13, 627.00 ( ini adalah besarnya income tax kita selama setahun)
  • Net Annual Income: £ 41, 941.00
  • Net Monthly Income: £ 3,495.00

Kalau anda pegawai tetap, nggak ada cerita dapat rumah. Paling anda bisa dapat Tax Credit sehingga bisa mengurangi tax yang ada bayar, plus kadang dapat uang transport dari kantor, plus child benefit.

Gaji segitu cukup gak?

Hitungannya begini; kalau anda sudah berpengalaman 10 tahun, berarti kan sudah punya tabungan, jadi itu bisa untuk DP beli rumah, dan beli rumah di outskirt London, sehingga cicilan rumahnya (KPR) cuma £500.

Tapi kalau gak punya uang buat DP, yah terpaksa ngontrak, dan sewanya dua bedroom di outskirt London biasanya sekitar £800-£1000 perbulan, plus £ 150 listrik dan air dan Internet/TV Cable.

Makan? Itu mah paling murah, apalagi kalau masak. makan di Restoran Malaysia di Paddington cuma £7.5 nasi plus dua lauk dan tek tarik.

Transportasi? Kalau anda kerja di Central London (Zone 1) dan tinggal di Outskirt (Zone 3) memang rada gede, Oyster Card bulanan bisa £100 – £150, yang bisa buat Train, Bus and Tram.

Sekolah? Gratis

Kesehatan? Gratis

Liburan? Tingal naik train ke London Waterloo untuk lihat London Eye, Big Ben, House of Parlement atau ke Picadilly Circus.

Saving? Bisalah…£1000 per bulan..minimal.

Kuliah? bakalan dikenakan Home Student Tuition Fee yang maksimal cuma £9000 per tahun sedangkan orang asing akan dikenakan £13,000 – £22000 per tahun.

ALhasil, kesimpulannya, di Inggris, tak ada bedanya orang asing maupun orang lokal dalam hal gaji dan fasilitas, selama skill nya sama.

Lain cerita kalau dikirim sama Induk Semang di Jakarta, astilah dapat rumah, mobil, dan allowance…dengan gaji di Jakarta utuh.

Bagaimana dengan Saudi Arabia dan Middle East?

Disinilah baru “the devil is talking”…

Pertama, gaji akan tergantung paspor anda. Rasis? Nop…itu hak nya mereka. Kalau ndak mau, ya jangan datang.

In short, orang ber paspor Amerika punya rate lebih tinggi. This is the fact.

Baru diikuti oleh Kanada, Inggris, Eropa dan lain-lain.

Indonesia dan Malaysia? Ada di kategori ketiga.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tawaran gaji yang anda terima pada saat melamar kerja di Saudi Arabia dan Timur Tengah sangatlah tergantung kepada berapa gaji terkahir yang anda dapat saat melamar.

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa setiap perusahaan mempunyai rentang gaji (range) berdasarkan pengalaman kerja yang dikategorikan kedalam Grade Code. Khusus untuk Timur Tengah, yang menjadi nilai jual mereka adalah TAX FREE, plus premium karena jauh dari negara asal.

jadi, biasanya tawaran akan datang dengan berdasarkan pada gaji GROSS saat ini, dengan asusmi tidak akan ada pajak, sehingga akan diterima penuh. Plus, diberikan apa yang disebut Premium Living Cost atau juga Standard Overbase. Besarnya, biasanya tergantung kepada negara dimana kita bekerja saat itu. Namun, ada faktor lain, yaitu “nationality” kita. Dan itu bervariasi antara North America, Western Europe, Australia, new Zealand, Japan, South Korea, Singapore; yang dikategorikan sebagai negara dengan biaya hidup tinggi, sehingga otomatis mendapatkan Overbase yang tinggi. Diikuti dengan negara South America, Eastern European; sebagai warga kelas dua, dan Indonesia, malaysia, Brunei dan negara Afrika sebagai warga kelas tiga.

Ingat, itu dalam hal overbase.

Dalam hal BASIC Salary, semuanya sangat tergantung kepada gaji terakhir. Kalau gaji terakhir anda tinggi, maka bisa jadi Basic anda juga tinggi. Cuma tetap ada batasnya.

Contohnya, jangan membandingkan gaji anda sebagai “kuli bor harian” terus minta disamakan ketika ditawari jadi Direct Hire. Itu namanya mimpi disiang bolong. Misalnya, dapat gaji USD30K pas jadi kuli harian, jangan harap akan dapat segitu saat Direct Hire.

Itu untuk EXPAT.

Bagaimana dengan orang lokal?

Sudah pasti tahu bahwa buat orang lokal sekalipun juga dibagi dua: sebagai pegawai tetap (direct hire) atau sebagai pegawai kontrak.

Untuk jadi pegawai tetap tidak lah mudah, sehingga banyak yang memulai karir sebagai Pegawai kontrak. Tapi, itu poun ada persyaratannya, yaitu mesti punya 4 tahun pengalaman, minimal untuk orang lokal maupun expat. Biasanya dengan pengalaman 5 tahun, maka Basic nya kira-kira SAR7000. kalau sudah pengalaman lebih dari 10 tahun bisa mendapatkan sampai SAR19K.

Itu pegawai kontrak. Direct Hire baru lulus saja bisa dapat SAR12K. Karena new graduate tidak lah mungkin orang asing, maka tidak lah bisa dibandingkan.

Tapi, kalau yang sudah experience 10 tahun, maka gaji Expat akan lebih tinggi dari gaji lokal, sesuai dengan pengelompokan tadi.

Makanya, bisa saja gaji Expat dari Asia lebih rendah dari gaji lokal, sedangkan dari Amerika dan Eropa Barat jelas lokal lebih rendah.

Berapa kali nya?  Yang jelas lebih dari 2 kali nya. Cuma mesti diingat juga, orang lokal akan dapat apa yang dikenal sebagai THR, uang untuk masuk bulan puasa, dan uang rumah. Alhasil, jumlahnya pun gak lagi 2 kali lipat lebih kecil, tapi bisa jadi sama atau gak jauh beda lah.

Tapi, sekali lagi mesti diingat, terhadap expat dari India/Filipina/Pakistan dan lain asianya, lokal lebih tinggi daripada paket nya mereka. Kecuali yang dari Indonesia dan Malaysia. Namun ini case by case, tergantung “your last payslip”.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Saudi Arabia?

HR di perusahaan Indonesia harusnya melakukan sebagai berikut:

  1. Silahkan Gaji Basic lebih rendah dari Expat. Tapi jangan terlalu jauh, apalagi dari bangsa nya India, Filipina, Srilanka, harusnya gaji lokal lebih tinggi.
  2. Tapi, harus ada balance nya dalam bentuk THR
  3. Satu Bulan Gaji diberikan saat masuk bulan Ramadhan.
  4. Tiga bulan gaji di awal tahun sebagai bantuan sewa rumah (walaupun dia gak nyewa)
  5. Plus uang bonus insentif tiap tahun sesuai prestasi kerja.
  6. Uang Pensiun (sudah biasa ini kan)

Hasilnya kan terima gaji 17 kali dalam setahun.

Dipercaya hal ini akan bisa mengurangi kesenjangan sosial dengan Expat.

Image | Posted on by | 4 Comments

Cerita Masa Lalu di Kekinian

Saya termasuk orang yang “melankolis”..katanya. Orang bersifat seperti ini biasanya senang menyendiri, tidak punya banyak teman, dan senangnya “bercerita sendiri”atau orang bilang menghayal.

Menurut saya, menghayal itu tidak ada salahnya. Malah bagus lho..bisa bikin kita semangat. Misalnya, ketika saya masih SMA, ketika saya suka dengan teman  sekolah, saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. AKhirnya saya cuma beraninya pada diri sendiri, melamun dan akhirnya mengarang cerita sendiri.

Makanya, lagu yang jadi temannya pun lagunya Ebiet G Ade. Kalau lagi sedih, alunan Richard Clayderman pun menjadi santapan lahap dikala mau tidur.

Tapi, sekali lagi, dengan “menghayal”itu, bikin, paling tidak, hati saya jadi tenang dan terhibur. Terkesan pengecut memang, karena tidak berani mengambil resiko ditolak misalnya.

Makanya, sekarang, kepada anak laki laki saya, saya selalu mengajarkan mereka untuk percaya diri alias PD. Lagi pula, they are now having a good looking more than I was…he..he..he..

Dulu, saya berpikir bahwa untuk mendapatkan cewek cantik di sekolah, kita mesti dan kudu menunjukan prestasi yang tinggi di kelas maupun di olahraga. Karena ditunjang otak yang lumayan encer, saya bisa lah jadi juara 3 di kelas.

Tapi, sayang nya, saya lebih banyak sibuk dengan dunia sendiri, sehingga tidak bisa mengekspresikan dan mengatakan serta mengungkapkan perasaan yang terpendam.

Akhirnya, Cewek yang saya sukai pun tidak mengetahui bahwa saya menyukai dia.

Kenapa? Too much worry. Takut ditolak, takut diketawain,, dlsb.

Harusnya gak boleh begitu ya…

Tapi, karena saya sering membuat cerita sendiri, akhirnya hal itu tidak lah begitu menyakitkan.

Ditambah lagi saya sering baca cerita Lima Sekawan jaman dulu, yang menjadi titik awal tumbuhnya keinginan untuk berangkat ke Inggris.

Sekarang, setelah 32 tahun melewati masa remaja, saya masih bisa menikmati kenangan manis masa lalu …walaupun kenangan itu hanya diketahui oleh diri saya sendiri..

—Time to sleep now..—- 22:30

Posted in General | Leave a comment

Londonkarta……(dari Jogjakarta)

Lima tahun lebih sudah saya meninggalkan London untuk bekerja di Saudi Arabia. Sebenarnya gak meninggalkan benar sih, karena setiah tahun atau kadang dua kali setahu saya sempatkan mampir ke London, sekadar melepaskan rindu, bak lagu nya KLA Project, Jogjakarta.

Setiap ke London, ada rasa tak terkata di dada, apalagi ketika keluar dari perut Airbus A380-800 EMIRATES di London Heathrow terminal 3, sampai keluar dari Imigrasi dan ambil barang.

Setiap keluar dari Arrival Hall, saya dan keluarga selalu menyempatkan diri “ngopi” sejenak di Cafe kedatangan, melepaskan penat habis terbang 7 jam dari Dubai, sambil merasakan kembali suasana Jogja..eh salah…suasana Heathrow.

Biasanya, langkah pertama adalah ke ATM HSBC, ambil uang pound sterling dulu.

Sejak pertama menginjakan kaki ke London sampai sekarang, HSBC account saya gak di tutup, Biar kalau ke London masih bisa menggunakan kartunya buat belanja. Lagi pula saya kan masih punya mortgage di Bank Of Scotland, jadi biar gampang bayar mortgage nya.

Keluar dari Heathrow, biasanya kita naik Black Cab. Kenapa gak naik Underground saja? Wah…lamaaa…plus bawa koper juga, kan gak nyaman. naik Hathrow Express? Karena kami berlima, jadi gak untung juga, murahan naik taxi lagi.

Sampai di London, terus mau kemana?

Dari Hotel baru naik underground, Osyter Card yang dulu masih ada, tinggal di isi ulang.

Rutenya kemana biasanya?

Napak tilas ……. Wimbledon, KIngston, Chelsea, London Waterloo, Westfield, Picadilly Circus, Oxford Street, Selfridges (biar gampang, kita bilang toko kuning), Paddington, Bonda Cafe, BIcester Village…

Kalau sempat, sewa mobil ke Manchester…

Intinya: menghirup kembali kenangan lama, kali ini sebagai turis..

That’s what I call Life…

 

 

 

 

Posted in General | 1 Comment

Living in Saudi Arabia for the past 5 years

It is my sixth years of living in Saudi Arabia as an Engineer. There are lots up and down during that time, in term of dealing with the new job, new environment, new life, new people and new weather.

The hardest part was the driving and still until today, the driving always the hardest part of living in this country.

The job or the works itself, not that big deal. You only need to know what you are doing and doing it right.

I have to construction site during my first three years, that was quite hard since I wasn’t prepared to go to site.

But you’ve got to bite the bullets, pick yourself up and face the reality.

I can say that I am successful on that essence since I am now enjoying my time here.

And most important thing here is that my family is happy and I am back now to do what I like to do most, as design engineer but with little bit higher position.

So, I must say, so far so good living in Saudi Arabia, in particular Saudi Aramco.

Posted in General | 1 Comment

Hidup di London

Enak gak tinggal di London? Bandingannya sama apa dulu? Singapore? Jakarta? Dhahran? Kuala Lumpur?

Terus….London itu kan luas, dibagian mananya yang enak?

Kalau mau jujur, tentu saja harus diakui tinggal dan hidup di London itu amatlah menyenangkan. Saya saja yang sudah meninggalkan London untuk bekerja dan tinggal di Saudi Arabia sejak akhir 2008 lalu, masih selalu menyempatkan libur tiap tahun ke London. Paling tidak menghidupkan Permanent Resident saya sekalian menengok apartemen saya di Wimbledon.

Apa nya yang enak?

Yang jelas sistem transportasinya sudah mapan, jelas itu. Aturan pun sudah jelas dengan hukum yang tidak membedakan antara penduduk asli atau pendatang.

Racist? Saya belum pernah merasakannya kok selama ini, alhamdulillah. Selama ini, jika saya, istri yang pakai jilbab, dan anak-anak (yang kita semua kulitnya nggak putih), naik train, bus, underground, di Mall, Park; aman-aman saja.

Kalau di Singapore juga enak, tapi SIngapore bak kota penuh beton, dan warganya gak begitu bersahabat, menurut saya lho ya..

 

Jakarta? Pasti enak lah, asal gak macet… :)

So..secara umum, kalau punya pekerjaan yang layak, enakan memang tinggal di London, plus bagus juga buat pendidikan anak-anak.

 

Soal menjalankan Ibadah Islam; seperti sholat, puasa: tenang aja…dijamin sama undang-undang…yang penting niat ….

 

 

 

 

 

Posted in General | 8 Comments

Serba Serbi Ber puasa di Luar Negeri

Tanpa terasa tahun ini adalah tahun keempat saya menimati ramadhan di tanah para rasul. Enak gak sih? Apa sih bedanya dengan ramadhan di tempat lain yang pernah saya cicipi; London, Singapore, dan tentunya Jakarta?

Bedanya apa ya?

Hmm…yang jelas suasananya. Kalau di Arab Saudi, kerjanya hanya setengah hari, walau yang beda keyakinan mesti kerja full time. Sementara Mall dan toko-toko pada tutup siang hari, dan mulai buka full speed habis taraweeh sampai jam 2 pagi. Jika di musim panas seperti saat ini, temperatur bisa mencapai 48 C, sehingga orang jadi malas keluar rumah.
Tak heran penggunaan listrik sangat lah tinggi pada musim panas ini, apalagi listriknya murah bener. Malah, kalau yang tinggal di komplek perumahan saya malah listriknya gak bayar alias perai, kata orang awak.
Satu hal lagi yang saya amati di Saudi ini, performance pegawai turun drastis. Pernah saya komentari teman saya orang lokal sini; jaman nabi Muhammad SAW dulu malah perang di bulan puasa. Pengen tau apa kata dia: Umat kita sekrang gak sekuat umat dulu kala….hallaah..alasan saja.

Intinya adalah puasa di Saudi ini bisa dikatakan godaan mata nya nggak ada. Lha jarang lihat perempuan lewat pakai rok seperti di Jakarta misalnya, atau milihat Susu Ultra berterbaran di London saat musim panas isaat duduk di Tube.

Jadi, tantangannya cuma di panas saja, yang bisa lah diatasi dengan masuk mesjid, kamar yang seperti bus ANS ke padang; Full AC, pakai toilet lagi.
Lain kalau di London di musim panas ini.

Temperatur memang cuma 25 C. Tapi gerah juga, karena orang Inggris nggak mampu bayar listrik yang mahal kalau mau seperti bus ANS Full AC tadi. Lagi pula, kilahnya orang Londo, musim panas kan cuma 3 bulan, gak perlu pakai AC lah. Padahal intinya sih gak mampu aja…he..he..sorry mate.

Nah..godaan terberatnya adalah kerja disana gak mengenal bulan puasa. Sama saja. Belum lagi kalau naik kereta bawah tanah, atau tube atau juga underground, dimana kaum hawanya menggunakan baju yang belum selesai.

Makanya banyak Ultra Milk bertebaran. Didepan mata lagi..gimana mau jaga puasa…

Di Jakarta lebih parah lagi…Berbuka bisa-bisa gak pernah di rumah. Kena macet mulu.

Jadi gimana sebaiknya? Dinikmati saja.

Bersyukurlah orang di London dan Jakarta yang menghadapi tantangan yang tidak tidak ringan dalam menjalankan ibadah puasanya.

Selamat berpuasa, semoga amal ibadah puasa dan sholat kita diterima Allah SWT.

Posted in Ceritaku | Tagged | 5 Comments