Dalam dunia kerja, ada namanya boss ada pula anak buah. Di dunia Migas, maksudnya orang-orang yang berkecimpung dibidang Oil dan Gas, baik itu sebagai Contractor maupun Owner alias Oil Company, juga ada kan sisi seperti itu, dengan nama yang berbeda-beda.
Ada yang namanya Junior Engineer, Senior Engineer, Field Engineer, Facility Engineer, Project Engineer, Lead Engineer, Engineering Manager, Project Manager atau lebih tinggi lagi ….nggak usah dibahas mendingan.
Yang membedakannya adalah yang satu kerjanya adalah mengerjakan detail, seperti ngitung pakai software ini lah, bikin sketch lah. Pokoknya kerjaan detail lah, namanya juga detailer.
Yang satu lagi bikin report, periksa schedule, budget, meeting, ngarahin, pokoknya mengatur. Namanya juga manager, me-menej.
Terus, lebih enak mana ya diantara keduanya?
Oh ya, ada satu hal lagi yang penting juga, yaitu, seperti biasa, dikotomi antara Enigneer yang kerja di EPC Company dengan Engineer yang kerja di Oil Company. Yang terakhir ini kerjanya lebih beragam lagi mulai dari Drilling Engineer, Mud Engineer, GGE, yang nota bene adalah juga berlabel specialist atau detailer, dengan kata lain bukan manager.
Atau kalau sudah majuan dikit, jadi Supervisor, dan Manager.
Jadi, sekali lagi, enakan mana?
Jawabannya pasti macam-macam, tergantung mood dan who’s talking.
Mendingan pengalaman saya saja deh, yang sudah 16 tahun berkeliaran didunia Engineering dan sudah meraksakan dan mencicipi segala rasa mulai Junior Engineer, Engineer, Senior Engineer, Lead Engineer, Engineering Manager, dan Project Manager, lalu balik lagi ke asal menjadi Principal Engineer, yang meliputi tiga negara, Indonesia, Singapura dan Inggris.
Dulu, ketika baru saja lulus kuliah, masih fresh from kampus, doyannya memang ngerjain segala macam hitungan dan analisa, dengan segala macam theory. Dulu senang dan banga kali kalau bisa menyelesaikan desain dan hitungan yang rumit. Puas.
Seiring umur dan pengalaman, tentu keinginan juga bertambah. Bukan lagi sekadar puas karena berhasil memecahkan masalah berat, tapi ada keinginan lain, seperti pengakuan dari pihak lain, department lain.
Nah, pengakuan didapat dalam bentuk naik gaji plus promosi menjadi Lead Engineer. Saat itu, udah nggak banyak ngitung-ngitung lagi, soalnya sudah ada junior yang ngerjain, paling tinggal melihat-lihat serta me-review hasil kerjaan.
Sebagai Lead Engineer, masih adalah sedikit banyaknya melakukan hobi dulu, desain dan analisa. Tapi sudah mulai direpotkan dengan urusan skedul, meeting, review. jadi kebiasaan detail mulai terlupakan, sedikit.
Apalagi kemudian menjadi Engineering Manager, kerjaannya meeting mulu. Entah sama client, vendor, sama project, plus sama anak buah dari semua disiplin. Masih sempat kerjaan n gitung-ngitung nggak? boro. Yang ada ngitung schedule, kamsud nya melihat schedule.
Project Manager, sami mawon.
Lalu, saya pikir-pikir, oh begini rasanya jadi Manager. Enak? Wah, susah juga ngebilangnya.
So,
Saya pun memutuskan mencoba peruntungan di Singapore.
Bukan sebagai Project Manager, bukan pula Engineering Manager, tapi sebagai Piping Stress Engineer.
Ya, kembali ke akar nya, menjadi detail engineer.
Pertama jelas ada culture shock, maklum, sudah lama nggak ngitung-ngitung dan analisa. Untungnya semua ilmu itu ngak hilang, masih adalah tersimpan di belahan otak yang sebelah lagi, jadi tinggal di putar ulang.
Sukses.
Sampai kemudian mencoba ke Inggris. Tetap sebagai Detailer. Di contractor pula.
Sukses lagi.
Sekarang pindah ke Oil Company, whatever. Jadi Senior Engineer. Masih detailer, tapi nggak sedetail jika kerja di EPC. Apa pun juga, pokoknya bukan management, masih di detailer.
Sekarang, saya sudah bisa menilai dan menimbang, apa enak dan tidak enak nya jadi Manager atau Specialist atau detailer tadi?
Keimpulan saya, begini:
Kalau anda adalah orang yang senang menghitung, menganalisa, dan kemudian bangga dan puas jika berhasil memecahkan permasalahan atau hitungan yang ruwet, maka anda tidak cocok jadi Manager.
Kenapa? Anda akan jemu sendiri.
Betapa tidak, baisa sibuk menghitung pakai manual, plus software, sibuk mengotak-atik, trial and error, explore semua possibility, sekarang semuanya hilang blas. Ada orang lain yang mengerjakan.
Terus, kita sendiri kerja apa? Ya, me-review, ngerjain yang lain yang dulu nggak sempat kepikiran, dan ada kesempatan meng-explore sesuatu yang baru, diluar bidang keteknisan.
Menuruti saya, menjadi Manager adalah pekerjaan yang mengasyikan jika anda senang meeting, berhubungan dengan orang lain, berdiplomasi, senang bikin laporan, dan anda nggak perlu tahu sebuah ilmu sampai detail, cukup tahu secara umum. Dan yang penting juga, anda senang mengexplore sesuatu diluar keteknisan, misalnya management.
Tapi jika suka sebaliknya, masih senang ngitung, analisa, masih suka detail pokoknya, mungkin sebaiknya jadi specialist saja.
Nah, jika demikian, kalau menjadi specialist saja, reward nya gimana? Secara financial, sebenarnya sangat bagus, asal anda kerjanya di Eropa atau Amerika atau juga di Singapore, Malaysia dan tentu saja Timur Tengah.
Oh ya ada lagi, yaitu kerja di Russia atau juga di Afrika Barat sana.
Dijamin gajinya gede walaupun anda sebagai specialist alias engineer saja.
Tapi, ada tapinya, yaitu ada pengorbanan disini, dalam arti, mungkin jauh dari keluarga atau jika keluarga bisa dibawa, jauh dari sanak saudara di tanah air.
Kalau jadi specialist di tanah air gimana? Gaji dan benefitnya bagus nggak? Lumayan aja sih, asal jangan dibandingkan dengan teman-teman yang di Middle East atau Russia sana atau juga di Afrika sana, jangan, sekali-kali jangan, ntar sakit hati soalnya.
Jadi, dari sisi gaji, kayaknya lebih enak jadi specialist di luar negeri, karena untuk jadi Manager di luar negeri adalah bukan perkara gampang, susah bin sulit, kalau nggak mau dibilang “impossible”.
Tapi, minusnya adalah ya itu tadi, you gonna miss all about your country, the culture, the food, dan yang penting lagi jauh dari “mak sama bapak”, the most important person in your life.
Dari sisi kerjaan, enak dan puas.
Lalu kalau jadi Manager? Pasti di Indonesia tempatnya, dan reward nya oke, dengan segala atribut penghormatan yang didapat.
Tapi, tetep ada tapinya, you gonna ended in long hour, pindah dari satu meeting ke meeting lain, bikin budget, schedule, report, planning, dan ini yang berat, bikin appraisal untuk anak buah.
Salah nilai performance, gaji anak buah nggak naik atau naiknya kecil, malah dicembrutin anak buah.
Dari sisi kerjaan, lebih banyak beratnya dari sisi psikologi dan mental.
Jadi ternyata, hidup ini memang nggak ada yang serba enak. Ada saja yang kurang. Adasaja yang kita komplain.
Yang terbaik adalah mensyukuri apa yang kita punya, banyak-banyak bersyukur maka kita akan puas dan enjoy didalam hidup ini.
Ibarat kata pepatah: “Kita tidak akan pernah menghargai atau meng-appreciate apa yang kita punya sampai apa yang kita punya tersebut hilang atau diambil oleh Allah Yang Maha Kuasa”
Sorry mate, bukannya sok menggurui, ini kan juga nasehat buat diri ku sendiri jua.
DIarsipkan di bawah: Ceritaku
Pertanyaan Pak Don…
Andaikan kita sudah memutuskan (berdasarkan referensi masing-masing), ingin jadi engineer atau manager, apakah (menurut pak Don) langkah2 untuk mencapai-nya (entah senior engineer ataupun manager) harus dipilih dari awal karir? Ataukah pada dasarnya mereka (calon senior engineer dan calon manager) itu path-nya sama saja… sampai suatu waktu jalur itu kemudian berpisah?
Mas Goio,
Begitu masuk ke sebuah perusahaan, memang semuanya berawal dari jalur yang sama, yaitu Junior Engineer dulu atau juga sering disebut Associate Engineer.
Dari sana biasanya mulai berkembang prestasi masing-masing sehingga ketahuan si A lebih cenderung ke mana.
Perusahaan biasanya punya mekanisme sendiri untuk mengetahui kemana karyawan mau diarahkan.
Hanya saja, posisi Manager kan cuma boleh satu orang, lha kalau yang nyodok dibawah itu ada 4 Senior Engineer yang sudah matang dan siap di promosikan, gimana?
Makanya ada perusahaan yang sudah siap dengan mengelompokan Senior Engineer yang nggak bakat jadi Manager kedalam Pool Specialist dengan reward dan benefit yang nggak kalah sama manager.
Dalam prakteknya mungkin nggak semulus itu. Budaya kita masih menghargai Titel Manager, jadi belum ada niat yang sungguh-sungguh dari Perusahaan untuk memperhatikan kelompok Senior Engineer yang nggak bakat dan nggak mau jadi Manager tadi itu.
Ada dua pilihan memang, tetap bertahan dengan apa yang dia dapatkan atau mencari ke tempat lain, dengan segala resiko seperti yang ditulis diartikel diatas.
lebi enak mana dlm hal kesejahteraan antara jadi orang tehnik atau orang manajemen di indonesia?
Betul Pak Donny, saya setuju didunia ini nggak ada serba enak, pasti ada kekurangannya.
Enak disatu sisi, tapi disisi lainnya kurang.
Olehnya itu, manusia sepantasnya untuk selalu bersyukur akan segala nikmat yang didapatnya.
Allah juga menjanjikan, Barang siapa yang selalu bersyukur akan nikmat yg diperolehnya, maka Allah akan menambahkan kan nikmat untuk hambaNya itu.
Kok.. jadi kayak Uztadz..hehe
Pak Donny,
Kalau begitu, semoga saja manajemen melihat aku sebagai kandidat untuk tetap di jalur engineer (detailer) sajah hehe. Gak (atau belum) tertarik untuk jadi manajer sih =)…
Makasih untuk info dan tips-nya.
uda Don,
maaf kl aku lancang,soalnya udah lama tidak berkunjung ke blognya uda Don, bahkan sampai ganti blogpun aku baru sadar ketika sdh masuk ke blognya yg baru (alamatnya didapat dr milis migas.red) gara2 mo lihat lowongan buat piping stress engineer itu qe…qe…qe…
oiya, pertanyaanku adalah sekarang uda Don udah ngga kerja di Bechtel lagi ya? berdasarkan cerita diatas pindah ke oil company, oil company di UK ya?
Hi..boleh tanya seputar engineering, saya apply menjadi engineering secretary, ada tips2 tidak unntuk saya, karena saya belum pernah bekerja di bagian engineering.Surat2 apa yang perlu maupun tata caranya, Planning,Reporting&Making Schedule& Budget..Ok gitu aja..THANKS YA.
pak Don , kayakny menarik nih obrolan seputar field engineer , aku mau tanya pak don mungkin juga dengan teman2 lain yang ikutan nimbrung , gimana yah memulai permulaan kerja di luar kebetulan saya mau Libya dan lagi harap2 cemas , pertama yah senang akan memulai kerja di luar dengan bayaran tinggi tapi firs time nervous juga dengan negara yang baru pertama aku kunjungin , mohon dong pencerahannya ….thax banget friends semua