Perjalanan Mencari Allah

Mempelajari agama adalah suatu keinginan yang sangat besar sejak saya kecil. Dulu, di Padang, sepulang sekolah, saya dikirim ke pengajian di surau, belajar membaca dan menulis Al-Quran.

Ketika beranjak remaja, karena sudah terbiasa, maka menghadiri pengajian selepas sholat magrib adalah menjadi makanan sehari-hari.

Saya senang mendengar cerita-cerita dari Ustad tentang kisah para Nabi-nabi di jaman dulu, juga kisah Khalifah, sampai ke pengembaraan Islam menguasai belahan Selatan Eropa.

Hal ini berlanjut terus sampai SMA. Bahkan ketika itu, sudah tertanam niatan untuk meneruskan ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Sayang nggak tercapai, malah nyangkut di Teknik Mesin Universitas Indonesia.

Namun, semangat belajar agama tetap disuburkan.

Di Kampus UI, mulai dari Salemba, terus ke Depok, sering berdiskusi dengan teman-teman.

Banyak yang kami diskusikan. Namun ada satu hal yang mengusik pemikiran saya yaitu pertanyaan tentang sejauh mana peranan Allah didalam setiap pergerakan kita.

Apakah ketika kita berbicara, misalnya, apakah Allah yang menggerakkan mulut kita?

Apakah ketika berlalri, Allah pula yang membuat kaki kita berlari?

Jika jawabannya adalah ya, maka bisa dibayangkan betapa “sibuknya” Allah melakukan hal itu pada semua umatnya, bukan cuma manusia, tapi juga hewan, tumbuhan, angkasa luar, sampai ke Bintang dan Bulan serta Matahari.

Memang bisa saja orang bilang: “Bagi Allah hal itu sih gampang saja. Allha maha besar”.

Tapi, saya nggak begitu puas dengan jawaban seperti itu.

Bagi saya, nggak seharusnya Allah bersibuk ria hanya menggerakkan kaki kita, misalnya. Terlalu kecil pekerjaan itu bagi Allah Yang Maha Besar.

Lalu timbul pemikiran, bahwa Allah telah menciptakan sebuah sistem yang bergerak dengan sendirinya, seperti Robot misalnya, dan sudah diprogram untuk melakukan sesuatu.

Ini saya juga nggak bisa memahami, karena jika demikian, jika semua sudah diprogram, buat apa kita diberi Akal Pikiran alias Otak? Buat apa kita bekerja jika semua sudah diatur: Rexeki diatur, jodoh diatur, maut diatur, mau kemana sudha diprogram.

Alhasil, dua pemikiran diatas saya tolak mentah-mentah.

Allah memberikan Isyarat di Al-Quran pada surat Yunus Ayat 61 (10:61), yang artinya kurang lebih:

    Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul mahfuz).
    Ayat diatas mengatakan kepada kita bahwa Allah “menyaksikan” setiap detik dalam hidup kita, setiap langkah yang ktia lakukan, dan sekecil apapun perbuatan kita

Dengan kata lain, Allah tidak “menggerakkan” kita dalam setiap langkah kita.

Artinya bedakan?

Satu lagi dalam Surat Al-An’am ayat 59: (6:59):

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

Kedua ayat diatas sangat saya pahami dan yakini bahwa Allah Maha Mengetahui apapun pergerakan kita.

But, still, it does not answer my curiosity. Tidak menjawab keingintahuan saya.

yaitu: Apakah Allah yang menggerakkan tubuh kita dalam setiap pergerakan yang kita buat atau lakukan?

Lebih jauh lagi, apakah Allah, dengan pemahamam bahwa segala sesuatu telah ditulis dikitab yang nyata, lauhul mahfuz, sudah menetapkan sebuah kejadian jauh sebelum kejadian itu berlangsung? Baik itu untuk urusan Rezeki, Jodoh, Prestasi, Maut?

Sebagai contoh, ketika kita akan duduk pada sebuah ujian umum misalnya, apakah Allah sudah mengetahui hasil akhir dari hasil test kita itu, regardless apapun usaha kita ketika ujian?

Ketika kita interview untuk sebuah pekerjaan, sebelum kita memasuki ruangan Interview, apakah Allah sudah mengetahui bahwa kita akan gagal atau berhasil?

Ketika saya akan menulis ini, apakah Allah sudah mengetahui apa yang akan saya tulis? Atau lebih jauh lagi, apakah Allah lah yang menggerakkan tangan saya ini? Kalau misalnya saya berhenti menulis, karena ingin membuktikan bahwa sayalah yang mengontrol diri saya, apakah berarti Allah juga yang memberhentikan tangan saya ini?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang “running around” in my head since I was young boy.

Ketika dulu, saat saya akan menyatakan Cinta kepada kekasih hati semasa SMA dulu, saya bertanya apakah Allah sudah tahu apa jawaban si Dia? Bagaimana kalau dia menolak, apakah Allah ayng menyuruh dia menolak saya, misalnya?

Pertanyaan itu tidak terjawab waktu itu.

Dua puluh lima tahun setelah itu, saya baru menemukan jawabannya.

Setelah melalui ribuan kilometer, melalui sebuah proses penemuan diri, saya akhirnya menemukan jawaban yang mengakhiri pencarian dalam diri.

Untuk pertanyaan saya tentang kemampuan untuk melakukan sesuatu, misalnya duduk, berdiri, menulis, berlari: Jika saya mampu melakukan hal tersebut, lalu dimana peran Allah? Bagaimana cara Allah SWT ikut campur? Jawabannya sebenarnya sangat sederhana ternyata, yang jika kita bagi ada 3 kemungkinan:

  1. Kita Memiliki kemampuan tersebut Tanpa Allah
  2. Kita memiliki bersama-sama Allah
  3. Kita Memiliki Dengan Perkenan Allah

Jawaban yang pertama dan kedua adalah SALAH, karena berarti sebuah kekufuran, karena mengabaikan ALLAH dan memposisikan kita sama dengan ALLAH, sesuatu yang nggak boleh. Jawaban yang terakhir adalah yang paling benar. Hanya dengan perkenan ALLAH lah, yang memiliki diri kita sepenuhnya, kita bisa melakukan hal itu. Jika Allah memberikan kemampuan itu kepada kita, maka itu adalah Anugrahnya, rahmat nya. Tetapi jika dia mencabutnya, maka ituadalah ujiannya.

DIA lah Sang Pemilik, pemilikan yang diberikan kepada kita, dan DIA lah yang berkemampuan atas Kemampuan yang dikuasakan-NYA kepada kita. Jatuh langsung saya bersujud kepada ALLAH mohon ampun atas pertanyaan tadi. Lahaula walaquwwata illabillahi ‘aliyyil’adziim. Tak ada daya dan upaya selain dengan izinnya.
Lalu bagaimana dengan kejadian yang akan terjadi yang sudah ditulis dilauhul mahfuz? Rezeki, Jodoh, Maut? Atau apakah ketika akan interview Allah sudah memutuskan kita akan gagal atau berhasil jauh sebelum kita memasuki ruangan Interview? Saya melihatnya bahwa apa yang dituliskan di lauhul mahfuz adalah sebuah kejadian yang baru akan terjadi atau kemungkinan akan terjadi, yang akan diberikan oleh ALLAH SWT.
Surat Al-Israa Ayat 30:

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambanya.
Surat Al-Anfal Ayat 53:

Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Dalam hidup ini, ada hukum sebab dan akibat. Sebab kita belajar, maka kita jadi pandai.

Sebab kita bekerja, maka kita mendapat rezeki.

Sebab kita jahat sama orang, maka kita pun dijahatin orang.

Surat Asy-Syuura Ayat 30:

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Allah telah mengatur alam semesta beserta isinya ini. Mereka berjalan dalam aturan yang telah digariskan Allah. Jika kita menuruti aturan, Insya Allah, kita akan menuju kegemilangan.

Manusia diberikan akal dan pikiran untuk memikirkan setiap langkah dan perbuatan, dengan berpedoman kepada Al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW.

Kita diberi kebebasan memilih, untuk masuk syorga atau neraka. Pilihannya jelas, konsekwensinya pun ada jelas pula.

Seperti pada surat Yunus ayat 61 diatas, maka Allah memperhatikan dan mengetahui apa yang akan kita buat.

Distulah perlunya kita, disetiap gerak dan langkah kita, senantiasa memohon bantuan dan pertolongan NYA, sehingga kita terhindar dari kesalahan dan malapetaka.

Karena, pada surat AL-Baqarah Ayat 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Hanya Allah yang bisa menolong kita, bahkan ketika akan terjadi sesuatu yang buruk sekalipun.

Tentu saja semuanya nggak datang begitu saja. Ada persyaratannya. Nggak mungkin kan kalau kita selama ini nggak kenal sama ALLAH, terus tiba-tiba saja kita minta tolong.

Bisa-bisa Allah akan bilang begini: “Sia waang?” (dalam bahasa Padang, ibarat katanya..)

Sehingga, perlu rasanya kita senantiasa berzikir, perbanyak mengingat Allah, mengerjakan perintah NYA, perbanyak Sholat Sunnat (yang Wajib sudah pastilah ya..), bezakat dan besedekah, menolong sesama.

19 Tanggapan

  1. Allah menurut saya adalah maha adil dan bijaksana, Dia tidak akan bertindak yang tidak sesuai dengan hukum alam, semua kejadian sepengetahuannya, maka bila kita berdoa/berperilaku/berusaha/berencana haruslah yang logik/masuk akal. Inilah hasil pemikiran saya selama ini

  2. Kesimpulan ini sepertinya baru kesimpulan sederhana. Seolah-olah hanya berlaku untuk kejadian pada satu orang.
    Hal yang sederhana, Tuhan sudah mengatur rejeki satu orang (misal: A)melalui orang lain (misal B). Jika orang B memiliki kehendak bebas sendiri (berbeda dengan ketentuan Tuhan), bukankah yang akan terjadi akhirnya A tidak tertolong (atau, skenario Tuhan berubah)? Padahal ketika Tuhan sudah menentukan sesuatu terjadi, maka sesuatu itu pasti terjadi. Dan jika Tuhan sudah menentukan sesuatu tidak terjadi, maka bagaimanapun manusia berusaha, pasti tidak akan terjadi.
    Dengan demikian.. takdir masih sesuatu yang misterius mas:)

  3. Allah selalu mengetahui dan memberikan semua yang kita mau tanpa kita sadari dan mengapa juga kita diharuskan bersyukur dengan apa yang kita dapatkan.
    Point diatas telah menjelaskan bahwa Allah mengetahui apa-apa yang dilakukan, diinginkan umatnya…. persoalannya hanya waktu kapan sesuatu yang kita pinta itu dapat terlaksana, kalaupun apa yang kita pinta tidak terlaksana itu merupakan suatu ketentuan Allah pada kita ( intinya terbaik untuk kita ), tetapi kenapa manusia selalu ada yang berprasangka buruk. Allah memberikan ujian/sikasaan pada seorang hambanya tidaklah sama satu sama lain ada dengan kekayaan , kemiskinan ,dll
    jadi intinya Allah selalu dekat, hanya saja diri kita mampu tidak menyingkap penghalang antara keduanya.
    Terimakasih mungkin masih panjang kalau dilanjutkan, tapi mudah-mudahan dapat membuka pikiran kita semua.

  4. Allah selalu mengetahui dan memberikan semua yang kita mau tanpa kita sadari dan mengapa juga kita diharuskan bersyukur dengan apa yang kita dapatkan.
    Point diatas telah menjelaskan bahwa Allah mengetahui apa-apa yang dilakukan, diinginkan umatnya…. persoalannya hanya waktu kapan sesuatu yang kita pinta itu dapat terlaksana, kalaupun apa yang kita pinta tidak terlaksana itu merupakan suatu ketentuan Allah pada kita ( intinya terbaik untuk kita ), tetapi kenapa manusia selalu ada yang berprasangka buruk. Allah memberikan ujian/sikasaan pada seorang hambanya tidaklah sama satu sama lain ada dengan kekayaan , kemiskinan ,dll
    jadi intinya Allah selalu dekat, hanya saja diri kita mampu tidak menyingkap penghalang antara keduanya.
    Terimakasih mungkin masih panjang kalau dilanjutkan, tapi mudah-mudahan dapat membuka pikiran kita semua. ( berikan yang terbaik untuk semua hal yang kita lakukan biarkan Allah yang menyempurnakan )

  5. Untuk saya yang sedang mencari ALLAH, tulisan ini bermanfaat … boleh numpang belajar di tulisan2 tentang Islamnya kan mas?

  6. Ya benar, alam ini Allah jalankan dengan peraturan umum sebab dan akibat. Namun harus diingat Allah SWT itu juga pencipta sebab dan penentu akibat. maka hak mutlak segalanya adalah pada Allah SWT. Kita wajib berusaha, melahirkan segala macam sebab menurut upaya kemanusiaan kita, tetapi harapan jangan dimutlakkan kepada sebab itu melainkan keada Allah SWT. Namrud mahu membakar Nabi Ibrahim as dengan kobaran api yang sungguh besar tetapi sebab yang diwujudkannya itu tidak melahirkan akibat yang dimahukannya. Api menjadi dingin, sebab tidak lagi membawa akibat dalam peristiwa itu. Berlaku pula perbincangan para tabib dengan Maulana Jalaludin Ar Rumi perihal daya kehidupan. Para tabib menegaskan bahawa darah itu adalah daya dan upaya hidup yang paling utama. Disanggah pula oleh Maulana Jalaluddin rumi dengan mengatakan bahawa izin hidup hanya darii Allah SWT. Lalu dikerat urat darahnya hingga mengalir banyak darahnya keluar dari tubuh sehingga puct seluruh tubuh dan wajahnya. Nyata dia masih hidup, lantas katanya Allah SWT itulah yang menghdiupkan, darah itu hanya menjadi sebab tetapi tidak mesti membaw akibat. Wallahualam

  7. Aku jauh Engkau jauh-Aku dekat engkau dekat. Lirik sebuah lagu yg tepat,cocok,dan akurat bagi mereka yg mencari Allah akan tetapi perlu anda ketahui bahwa siapapun apapun dan kapanpun selama kita hidup di alam fana ini tak kan mungkin dapat bertemu/melihat wujud haqiqi Allah,dalam pandangan wujud Definisi anda. Anda pasti mengetahui tarikh nabi Alah MUSA as. Wallahu a’lam.

  8. hatur nuhun atas adanya tulisan ini sangat membantu semoga Allah memberi balasannya

  9. kok q tambah bingung to masss……..? ALLAH sudah ada didlm diri kita kok dicari segala? emangnya ALLAH hilang?

  10. Allah Maha mengetahui semua hal yang ada di alam semesta ini, Allah tidak perlu dicari! DIA yang Maha Esa sudah ada, tinggal kita sebagai khalifah yang mau dan bisa mencintai ALLAH atau tidak!
    :)
    PEACE!!!

  11. aku ingin sekali berubah dan insyaf dari segala kesalahn dan dosa2 besar ku,, tapi aku tak bisa ngendalikan nafsu binalku yang seakan2 selalu mengrogoti imanku,,, Ya Rabb tolong hamba dan selamatkan hamba dari dosa homoseksual ini,,,

  12. Andai kalian tahu bahwa aku selalu mencari dimana Allah Tuhanku berada,, aku suka segala berbentuk religi, tapi disaat aku mulai bersih pasti datang seribu ribu kotoran yang sangat membuatku tergiur dan selalu saja iman ku tergoda,,,aku mohon bagi teman2 yang sangat berilmu agama tolong temanmu ini, keluarkan dari segala dunia hitam ini, aku sudah capek aku ingin menikmati kehidupan normal…

  13. jangan menanyakan sesuatu yang tidak terbatas kepada suatu hal yang terbatas, bisa gila tuh kita. gini aja kenapa kita hanya memikirkan dan mempertanyakan hak-hak kita sedangkan kita tidak memikirkan hak-hak Allah, untuk lebih jelasnya tentang pencarian siapa Tuhan kita ini dan kenapa kita diciptakan cari aja jawabannya di kitab – kitab ciptakan para ulama.

  14. Bismillahirrahmannirrahim
    Dengan bergaul dan berkumpul bersama dunia atau kaum putih insya Allah anda kebagian putihnya dan butuh proses dalam perjalanannya dimana konsiderasinya adalah waktu… dan Insya Allah cepat karena hasrat itu sudah ada dalam diri mas…. Wass.

  15. i still haven’t found what i’m looking for ?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
    life is a journey, a never ending journey i guess
    what we are, where we will
    just like you said : it all questions running around in my mind.

  16. fuh… browsing cari tuhan lagi ke tempat lain ya mas
    anyway thanx very much
    i love you in the name of god

  17. tuhan(ALLAH) kok pake dicari2 sgala …….emangnya tuhan hilang? ALLAH itu gak dicari masss……..tp diDEKATI…!!!!!!

  18. ALLAH2 Ya ALLAH… AQ Ingin hidup Lebih Baikh.. Pi aq gk tau n gk ngerti , dari mana muali bisa Mencintai ALLAH lagi Lebih Dari Apapun,,, Bantu,, Saya,,

  19. dalam hidup setiap orang berproses dan proses ini kita sebutlah belajar, dan belajar berketuhanan juga melalui proses, sama seperti proses yang telah kita lewati dari mulai TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan seterusnya. kapasitas dan pola berfikir akan terus berubah. dan masih akan terus berproses sampai kita mati. karena hakekat hidup ini adalah belajar atau berproses, untuk tahap kehidupan selanjutnya.

    Dalam proses berketuhanan disitulah kadang kadang sering KEIMANAN seseorang turun naik dan tidak konstan apabila tidak memiliki pegangan kuat. dan agama bukan logika. dalam agama kita bicara keyakinan.

    Kebenaran itu sifatnya mutlak dan bukan berdasarkan pendapat, karena pendapat merupakan interpretasi otak dan pemikiran manusia. Kebenaran mutlak itu ada didalam al quran dan kita sebagai umat islam wajib meyakininya atau iman apa al quran.

    Yakin itu adalah Iman, sebagai mana rukun iman merupakan dasar dalam menjalankan Agama Islam, rukun iman merupakan komitmen umat islam sebelum masuk dalam Rukun Islam, yang merupakan Aplikasi atau implementasi dari Rukun Iman.

    “seandainya Allah memperlihatkan wujud nya, sudah pasti semua orang berbondong bondong ber iman dan masuk islam” pertanyaan nya kalau begitu buat apa manusia diciptakan??? tidak ada ujian dan proses belajar lagi didunia dan apa arti nya otak /akal pikiran dan hawa nafsu yang ada dalam manusia?

    Allah tidak perlu dicari, dia ada dan kita hanya perlu mempercayai, yang ghoib itu rahasiaku??

    Manusia ditunjuk sebagai khalifah di bumi untuk melihat, mendengar, merasakan kebesaran tuhan akan kah manusia bersyukur? hanya tanda tanda kebesaran tuhan lah yang mampu dilihat jasad manusia.

    tingkatkan keimanan kita, implementasikan dalam rukun islam, dan ihsan sebagai parameter keislaman.

Tinggalkan Balasan