Pengalaman Kerja: Sebuah Cerita

Pribadi kita terbentuk sesuai dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana kita
paling banyak menghabiskan waktu. Demikian juga dengan anak-anak kita,
pribadi nya akan sangat bergantung dimana dia lebih banyak menghabiskan
waktunya.

Jika didalam pergaulannya dia lebih banyak berinteraksi dengan teman-temannya yang mempunyai sifat yang aggresif, maka sifat tersebut juga akan mulai membekas dalam dirinya.

Begitu juga dengan pribadi dan karakter kita sebagai professional, akan sangat banyak dipengaruhi lingkungan dimana kita selama ini bekerja.

Selama kurun waktu yang lebih dari 17 tahun bekerja di perusahaan
Engineering, saya sudah merasakan berbagai macam lingkungan pekerjaan
yang saya bagi atas beberapa kelompok, berdasarkan Negara asal.

Yang pertama adalah bekerja dalam lingkungan orang-orang dari Jepang:

Hal ini adalah saya alami ketika pertama mula bekerja, begitu lulus dari
UI, pekerjaan pertama saya adalah melakukan perhitungan beban pipa pada
proyek yang dikerjakan oleh Perusahaan Engineering dari Jepang. Saat itu
perhitungan harus dilakukan dengan teliti dan akurat, yang diikuti
dengan penyimpanan pada sistim dokumen yang teratur.

Jepang memang terkenal dengan disiplin waktu, disiplin bekerja, yang
cenderung memberikan kesan seperti robot. Kaku, dan mahal senyum. Jarang
ada bicara atau ngobrol ngalor ngidul, cekaka cekiki, ketawa ketiwi.
Nehi. Bahkan bersiul saja ada yang marah Jepangnya. Apalagi bekerja
sambil dengerin walkman, nggak ada cerita itu. Atau menerima telepon tak
bias lama-lama.

Beberapa kali saya ikut terlibat dalam proyek yang dilakukan bekerja
sama dengan Perusahaan EPC dair Jepang tersebut, dan suasana dan
disiplinnya masih seperti itu, walau sudah berbilang tahun.

Alhasil, pekerjaan memang bisa selesai pada waktunya, dan benar adanya.
Saya melihat bahwa “lulusan” yang bekerja bersama Engineer dari Jepang
tersebut lebih tekun dan rajin serta mampu bekerja dengan cepat dan
akurat.

Lembur adalah tak obahnya jam kerja biasa. Tapi, selalu ada
pengecualian. Yaitu dipilih salah satu ahri yang tidak boleh lembur.

Carakerja model itu, memang ada yang suka, dan ada yang tidak. Normal
itu. Kalau saya melihat sisi positifnya, yang bisa membentuk pribadi
kita menjadi pribadi yang tekun dan mantap. Apalagi, lembur ka nada
duitnya…he..he.

Negara kedua adalah Amerika Serikat dan Inggris:

Saya termasuk beruntung, bahwa dalam karir saya pernah mengenyam bekerja
sama dengan Engineer dari Negara Barat tersebut, setelah sebelumnya
kenyang di drill sama Jepang.

Orang Barat memang beda, dalam segala hal. Bukan saja ukurannya yang
besar, badannya maksud saya, tapi juga karakter yang berbeda.

Dalam bekerja, mereka tidak pernah terlalu ngoyo seperti orang Jepang.
Malah, kalau bisa dikatakan mereka mempunyai sifat yang bertolak
belakang dengan orang Jepang.

Ngobrol chit-chat itu mah wajib hukumnya, sambil ngopi. Itu dilakukan
paling tidak setiap 2 jam sekali. Ketawa? Malah paling gede ketawanya,
dan suka nggak malu-malu.

Kerja? Santai saja lah, ntar juga selesai, pokoknya nikmati hidup ini.
Lembur? Jarang…

Yang selanjutnya, misalnya orang dari Singapore, India, Filipina,
rasanya mereka sudah mirip orang barat saja. Kerjanya juga sembari
diselingi dengan ngobrol dan ngopi.

Jadi yang baik yang mana?

Karena saya sudah merasakan “nikmatnya” bekerja bersama mereka, maka
tentu saja ada nilai positifnya. Terutama, karena sudah biasa bekerja
dengan Engineer dari Jepang ayng serius dan teliti, maka pola tersebut
yang paling melekat dalam diri saya, yang kebetulan memang senang kerja
yang serius..bukan sok-sok lho..

Jika anda sudah biasa bekerja serius, maka ketika mulai bekerja
dilingkungan orang Barat, maka biasanya sikap serius kita langsung
membuat kita bisa tancap gas, mendahului mereka.

Namun kadang kan kita tidak bisa seperti itu. Ibarat kata orang Padang,
dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Artinya, jika kita
bekerja pada irang Jepang, maka ikutlah cara mereka. Sebaliknya jika
kita tinggal sama orang bule, maka cara dialah yang kita tiru.

Tapi, ingat, ini namanya bukan bunglon, tak berpendirian. Disitulah
diperlukannya pribadi dan karakter yang kuat dari seseorang sehingga
tidak akan terhanyut begitu saja.

Boleh saja mengikuti cara orang barat, dalam hal apa saja, tapi jangan
sampai kehilangan jati diri, kecuali kalau memang tidak punya jati diri.

Dengan kata lain juga, jika anda pekerja serius ala Jepun, maka tak ada
salahnya jika anda sesekali mengikuti lagamnya Paman Sam, yang agak
rileks.

Sekarang, kalau awalnya dulu, ikut bekerja dan akirnya terbiasa dengan
gaya Barat, gimana? Yah,..kalau begitu, terpaksa harus menambah latihan
diluar jadwal agar speednya ikut naik.

Tapi, on top of that, semuanya adalah sangat tergantung kepada sifat
asli dan karakter masing-masing individu, plus keinginan untuk maju.

Kalau saya berpendapat, jika mau maju, kombinasikan ketelitian dan
keseriusan Jepang dengan rileks nya Amerika, maka “you will be there on
a place of your castle dream”.

About these ads
This entry was posted in Ceritaku. Bookmark the permalink.

3 Responses to Pengalaman Kerja: Sebuah Cerita

  1. tofik says:

    Pak Don dan rekan yang lain,

    Mohon pencerahan,
    Saya tidak punya pengalaman oil and gas dan sangat berhasrat untuk switch ke sana.
    Qodarullah saya tidak punya pengalaman secuilpun di oil and gas company, tetapi saya punya keahlian beberapa software oil and gas (PDMS , Tekla , dan pengetahuan tentang piping secara otodidak dari beberapa meteri training and buku-buku piping design).
    InsyaAllah sebentar lagi Caesar II (setelah dapet bukunya Pak Don, he,he).

    Pertanyaan saya :
    Apakah untuk membantu nilai jual CV, kita boleh mencantumkan
    buku-buku yang pernah dipelajari (tentu ditambah dengan keahlian yang dimiliki) sebagai referensi.

    Terima kasih

  2. kakdaus says:

    Setuju pak…
    Saya setelah tamat kuliah langsung kerja sama kontraktor Jepang, tapi bidangnya HVAC & Clean Room jadi Project Engineer selama 1 tahun 4 bulan. Kerjanya miscellaneous banget… Dalam 1 bulan bisa kerja 28 hari libur 2 hari! Terkadang pulang malem, pernah sampe jam 2:30 dini hari.
    Sudah mau 3 bulan ini pindah ke perusahaan EPC kepunyaan Malaysia (Wah Seong) yang baru berkembang di Batam, suasananya beda 180 derajat.
    Kalo dulu mesti pake sepatu, baju dimasukin, musti punch card dan sederet aturan laennya, mental banget di perusahaan baru ini…
    Sebelumnya saya pengen beli kemeja baru dan sepatu baru buat siap2 kerja di perusahaan baru,eh, ternyata yang masuk kerja pake kaos oblong sama sendal jepit! Absen pun ditanda tangan aja, kayak kursus, yang notabene bisa dirapel 3 hari sekali… Kakakakakkk… Awalnya saya ikut2 mereka… Tapi, kok rasanya kayak g kerja yah, mungkin dah kebiasaan sama Jepang… So, jadi balik style pakaian Jepang lagi… Hehehe…
    Bener kata bapak, dimana bumi di pijak, di situ langit dijunjung…
    Ambil yang baik, tinggalin yang buruk…

  3. shutrwin says:

    sharing yang bagus sekali…
    thank you… :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s