Ketika pertama kali menginjakan kaki di dunia Piping Engineering, khususnya lagi Piping Stress Analysis, terus terang saja, seperti apa masa depan yang ada belumlah begitu jelas.
Mungkin karena memang tidak ada yang membimbing, atau mungkin juga karena orang-orang disekitar saya pun tidak tahu ada apa dibalik pulau. Yang jelas, filosopinya, ikuti saja air mengalir. Kemana air mengalir, kemana arus pekerjaan membawa, kesitulah kita akan sampai, itulah masa depan, katanya.
Saya terlalu naif waktu itu untuk mencoba meikirkan diluar konsep itu.
Baru setelah lima tahun bekerja dipiping stress, saya mulai agak sedikit terbuka, ketika dikirim ke Irvine, Los Angeles, California, kantor pusatnya FLuor Daniel, dulu itu. Diikuti dengan setahun di Brown and Root London tahun 1997.
Pulang dari London, disambut kerusuhan bulan Mei 1998, sekaligus krisis terparah bangsa ini, saya baru dapat tawaran untuk bekerja di Foster Wheeler Singapore, yang waktu itu saya belum berani.
Artinya, baru setelah 8 tahun bekerja, saya berani melamar ke Singapore. Dan baru 5 tahun kemudian, jadi juga kerja di Singapore.
Selesai di Singapore, karir saya, kalau mau dibilang seperti itu, melejit bak meteor yang bahkan diluar “my wildest dream”.
Kalau mau di bandingkan, dalam skala lain tentu nya, perpindahan dari Singapore ke London adalah ibarat pindahnya pemain sepak bola Asia ke Liga Primer Inggris yang merasakan mendapatkan gaji poundsterling dalam tatanan nilai kontrak yang besar.
I am talking about working in the office in the city of London, not in the middle of the sea on the top of the offshore platform, no. Not even in Lagos or Sakhalin, or in the heat of desert. This is an office job with smart-dress such as wearing a tie and suit.
Yang menjadi pemikiran saya, adalah kenapa saya mesti ke Singapore dulu bekerja 1 tahun, baru bisa melanglang buana ke Inggris dan menjadi Stress Engineer dalam daily rate tadi itu. Apakah memang begitu?
Saya pikir mungkin begitu. Ada semacam tempat yang perlu disinggahi untuk menjadi semacam batu loncatan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kalau dalam bahasa agamanya, adalah mungkin itulah jalan takdir karir saya.
Setelah hampir 5 tahun di London, akhirnya saya pun bisa pindah dari kontraktor di London ke Oil Company di Saudi Arabia, dengan mendapatkan gaji yang berbasis kepada gaji di London.
Artinya lagi, untuk bisa mendapatkan pengakuan setaraf dengan rekan sejawat kita yang orang bule, saya pikir, kita mesti tinggal dan bekerja di negara mereka, sehingga secara tidak langsung pengetahuan dan kemampuan kita akan disejajarkan dengan mereka dan pada gilirannya akan mendapatkan reward yang sebanding.
Jika kemudian pada suatu saat tertentu kita ingin menjajal kemampuan di negara lain, maka perusahaan tersebut akan menggunakan pengalaman kita sekaligus gaji terkahir kita sebagai basis mereka memberikan paket renumerasi buat kita.
Kesimpulannya:
Saya menganggap Singapore adalah sebagai batu loncatan untuk ke London.
Dan London adalah suatu batu loncatan untuk mendapatkan posisi tawar yang tinggi sehingga bisa mendapatkan paket yang setara dengan orang sini.
So, if you got an offer from London or Amsterdam or Paris for staff or contract position, grab it, and use it as your bargaining weapon when entering another country job market later in your career. They would not see your nationality or your passport, they would only see your capability and your knowledge, and respect you as an Engineer.
I have done this way successfully.
If I can, You can. Why not?
DIarsipkan di bawah: Ceritaku, Kerja di London
Bahagia rasanya bisa membaca dan merasakan anak bangsa, saudara muslim bisa meraih yang lebih dari yang dia bayangkan.
Cerita dan motivasi buat kita yang baca, terimakasih Uda Donny, banyak hal yang di sharing dan bermanfaat bagi kami. semoga banyak anak2 muda yang berprestasi dan melejit seperti yang dilakukan Uda.
Salam
Mas Doony sangat menginspirasi jalan karir dan kehidapn mas Donny bagi…saya…
Mohon Do’anya Mas Donn…
Saya sangat Ingin sekali berkecimpung di Dunia Piping…
Mudah-mudah an bisa meneruskan jejak Mas Donn…..
Thanks…a…Lot…
Blog Mas Donny dah lama ku-bookmark, periodically sering kukunjungi dan pasti ada cerita2 baru yang inspiratif.
Seide dengan Mas Donny (walopun blm menjalani he2). Rencananya (Amin..) stlh kerja 2 tahun di kontraktor, saya juga pengen ke Spore, tapi buat sekolah dan kmudian kerja di situ beberapa saat, yang menurut saya (dan kemudian memang benar dari perspektof Mas Donny) merupakan gerbang ke Europe..Ya…ke London ato Paris (abis baca “Sang Pemimpi”-nya Andrea Hirata) soale..
Sukses Buat Mas Don..
Salut … no future comment
da infonya sangat membangkitkan semangat ni mas. oya sekarang saya di instrument engineer mas di salah satu perusahaan swasta di jakarta. uda punya saran gak da buat langkah saya selanjutnya . oya saya baru satu tahun kerja dn kalo boleh saya minta id YMnya da donny.
[...] bookmarks tagged bak mei Singapore and London: Stepping Stone in My Career saved by 3 others ShamanKing10 bookmarked on 10/31/08 | [...]
ikut nimbrung lagi nich. Tulisan anda ‘inspiring’ banget. Moga-moga ada banyak lagi future piping stress engineer yang sukses di luar negeri, tapi tetap mau berbagi ilmu seperti pak Don. AMIN. Just keep the pace ….
Inspiratif dan sangat menggugah semangat. bukan karena duit atau fasilitas yg diperoleh, tapi pada semangat dan kemauan kerja kerasnya. Makasih pak Donny
akhirnya ketemu juga…. so met tahun baru mas donny. Kita di malaka off dulu 2 minggu….. sampai jumpa di tahun 2009 nanti.
Pengalaman dan kesuksesan yang luar biasa mas donny.
Nice Sharing mas.